BAB 1 PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Wacana tentang manajemen sumber daya manusia senantiasa
menarik untuk dideskripsikan dari mulai permasalahan pendidikan dan pelatihan
yang sesuai dengan kinerjanya, pelayanan yang dilakukan, kompetensi yang
seharusnya melekat pada pekerjaannya sampai masalah kesejahteraan yang
menyangkut faktor gaji dan tunjangan bagi pegawai secara kongkrit pula fungsi
kerja prosedural harus cepat, bekerja secara profesional dengan prinsip efisian
efektif dan tentu saja bertanggung jawab berdasarkan peraturan yang berlaku,
ini semua akan menjadi kunci berjalannya suatu sistem dengan manajemen sumber
daya manusia yang baik atau di dunia birokrasi pemerintah disebut sebagai good goverment yaitu suatu tata
pemerintahan yang bersih, taat kepada hukum, dan beorientasi pada pelayanan
untuk mewujudkan kesejahteraan umum atas dasar keadilan sosial.
Sistem
perencanaan sumber daya manusia yang meliputi kegiatan rekrutmen dan
pengembangan pola karir dapat membantu menyediakan kebutuhan jumlah dan
keahlian sumber daya manusia sesuai kebutuhan organisasi. Saat ini terdapat
banyak ketidaksesuaian antara jumlah pegawai dengan kebutuhan unit kerja di
beberapa unit kerja, sehingga berdampak kepada tingkat kinerja yang tidak optimal.
Peningkatan kinerja dalam sebuah organisasi tidak hanya tergantung pada bagaimana organisasi menghasilkan kompetensi manusia, tetapi juga bagaimana organisasi memberi dukungan atas kemampuan yang dimiliki para pegawai dalam bekerja. Dukungan organisasi terhadap kemampuan yang dimiliki oleh para pegawai menjadi hal penting mengingat lingkungan instansi, baik internal maupun eksternal selalu mengalami perubahan berkelanjutan. Kemampuan bekerja mutlak dimiliki oleh pegawai sehingga aktivitas atau pekerjaan yang menjadi tanggung jawab merekan dapat terselesaikan dengan baik sesuai dengan ketentuan dari kemampuan pengetahuan, kemampuan keterampilan, dan kemampuan sikap. Beberapa
Peningkatan kinerja dalam sebuah organisasi tidak hanya tergantung pada bagaimana organisasi menghasilkan kompetensi manusia, tetapi juga bagaimana organisasi memberi dukungan atas kemampuan yang dimiliki para pegawai dalam bekerja. Dukungan organisasi terhadap kemampuan yang dimiliki oleh para pegawai menjadi hal penting mengingat lingkungan instansi, baik internal maupun eksternal selalu mengalami perubahan berkelanjutan. Kemampuan bekerja mutlak dimiliki oleh pegawai sehingga aktivitas atau pekerjaan yang menjadi tanggung jawab merekan dapat terselesaikan dengan baik sesuai dengan ketentuan dari kemampuan pengetahuan, kemampuan keterampilan, dan kemampuan sikap. Beberapa
indikasi
kemampuan kerja tersebut dapat menunjukkan adanya kemampuan kerja secara
keseluruhan, di mana kemampuan yang dimiliki oleh seorang pegawai dapat
menunjukkan tingkat kemampuan kinerja yang dimiliki.
Kemampuan kerja yang dimiliki pegawai
mencerminkan kinerja yang akan dihasilkan pegawai tersebut.Pelatihan bagi
organisasi dilakukan untuk meningkatkan kinerja,
sedangkanpelatihan bagi pegawai dilakukan untuk meningkatkan kinerja karena
setiap manusia perlu belajar dan berlatih agar memiliki kompetensi dan
kemampuan yang memadai dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Mangkunegara
(2003:61) mengemukakan “kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya”. Untuk menciptakan kinerja
sesuai dengan tujuan perusahaan dapat melalui berbagai cara, tiga diantaranya adalah
pendidikan, pelatihan dan motivasi kerja.
Pelatihan dan pendidikan sumber daya manusia berhubungan
erat dengan penilaian terhadap hasil pekerjaan pegawai, artinya pelatihan
dilaksanakan setelah ada hasil penilaian, pelatihan dan pendidikan dilakukan
agar para pegawai/karyawan memiliki pengetahuan, kemampuan dan keterampilan
sesuai dengan tuntutan pekerjaan yang mereka lakukan, mengikuti pelatihan dan
pendidikan berarti mengembangkan pengetahuan para pegawai untuk lebih mengenal
dan memahami tugas pokok dan fungsi yang diemban.
Secara umum pendidikan dan pelatihan bertujuan untuk
memberikan kesempatan kepada pegawai untuk meningkatkan kecakapan dan
keterampilan mereka, untuk membentuk sosok pegawai yang handal dan profesional,
diperlukan Diklat yang mengarah pada peningkatan kompetensi teknis, manajerial
atau kepemimpinan, peningkatan efisiensi dan efektifitas, lingkungannya, dalam hal ini adalah atasan,
teman sederajat, dan bawahan.
Selain pendidikan dan pelatihan, motivasi kerja pegawai itu sendiri juga berpengaruh pada pengembangan sumber daya manusia pada organisasi. Pegawai merupakan aset utama organisasi dan mempunyai peran yang
Selain pendidikan dan pelatihan, motivasi kerja pegawai itu sendiri juga berpengaruh pada pengembangan sumber daya manusia pada organisasi. Pegawai merupakan aset utama organisasi dan mempunyai peran yang
strategis
dalam organisasi yaitu sebagi pemikir, perencana, dan pengendali aktivitas
organisasi. Demi tercapainnya tujuan organisasi, pegawai memerlukan motivasi
untuk bekerja lebih rajin. Melihat pentingnya pegawai dalam organisasi maka
diperlukan perhatian lebih serius terhadap tugas yang dikerjakan sehingga
tujuan organisasi dapat tercapai.
Dengan
motivasi kerja yang tinggi, pegawai akan bekerja dengan giat dalam melaksanakan
pekerjaannya. Sebaliknya, dengan motivasi kerja yang rendah, pegawai tidak mempunyai
semangat kerja, mudah menyerah, dan kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Namun fenomena yang
sering terjadi di lapangan, organisasi belum menyadari bahwa peningkatan
kinerja sangatlah dipengaruhi oleh faktor pendidikan dan pelatihan dan faktor–faktor
yang meningkatkan motivasi kerja pegawai, tujuan organisasi kerja untuk
melayani dalam bidang kompetensi yang dikerjakan,seringkali mengabaikan
pentingnya faktor pendidikan dan pelatihan serta perbaikan faktor–faktor
motivasi kerja dalam menunjang dan meningkatkan kinerja pegawai, meskipun ada
beberapa perusahaan atau instansi yang telah menerapkan pentingnya pendidikan
dan pelatihan kepada pegawainnya, tapi pada penerapannya masih banyak
kekurangan dalam hal intensitas dan pemberian fungsi tugas kepada pegawai yang
telah melaksanakan pelatihan kerja. Seringkali
bagi perusahaan pemberian motivasi kerja dapat menjadi sulit disebabkan faktor
internal (karakteristik individu) dalam motivasi kerja yang meliputi kebutuhan,
keinginan dan harapan yang terdapat dalam pribadi, dan selama
ini pula pola pendidikan
pelatihan dan kompensasi yang ada belum mampu memberikan tingkat kesejahteraan
yang diharapkan. Hal ini mengakibatkan penurunan motivasi kerja pegawai, dan
pada gilirannya tingkat kinerja tidak mampu mencapai tingkat yang diharapkan.
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Tanjung Wangi atau yang sering disebut KSOP Tanjung Wangi adalah Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Laut yang mempunyai tugas dan tanggung jawab bidang keselamatan pelayaran dan
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Tanjung Wangi atau yang sering disebut KSOP Tanjung Wangi adalah Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Laut yang mempunyai tugas dan tanggung jawab bidang keselamatan pelayaran dan
usaha
angkutan laut di pelabuhan yang diusahakan. Untuk mencapai tujuannya KSOP Tanjung
Wangi melakukan upaya untuk meningkatkan kinerja pegawai. Oleh karena itu KSOP Tanjung
Wangi mempertimbangkan bahwa penerapan pendidikan dan pelatihan kerja dan motivasi
kerja diharapkan dapat meningkatkan kinerja pegawainnya.
Berdasarkan
penjelasan diatas, dapat diindentifikasikan masalah-masalah yang menjadi dasar
untuk mengambil judul “PENGARUH PENDIDIKAN DAN PELATIHAN, MOTIVASI KERJA
TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADAKANTOR KESYAHBANDARAN DAN OTORITAS PELABUHAN
TANJUNG WANGI”,
1.1
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di
atas, dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Apakah pendidikan dan pelatihan mempunyai pengaruh secara simultan terhadap kinerja pegawai pada KSOP Tanjung
Wangi?
2.
Apakah motivasi kerja mempunyai pengaruh secara parsial terhadap
kinerja pegawai pelaksana pada KSOP Tanjung Wangi?
3.
Manakah yang lebih
berpengaruh secara signifikan diantara pendidikan pelatihan dan motivasi kerja secara simultan terhadap
kinerja pegawai pada KSOP Tanjung Wangi?
1.2
Batasan
Masalah
Agar didalam pembahasan hasil penelitian nanti tidak menyimpang maka masalah penelitian ini hanya dibatasi pada pendidikan dan pelatihan, motivasi kerja terhadap kinerja pegawai pada Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Tanjung Wangi.
Agar didalam pembahasan hasil penelitian nanti tidak menyimpang maka masalah penelitian ini hanya dibatasi pada pendidikan dan pelatihan, motivasi kerja terhadap kinerja pegawai pada Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Tanjung Wangi.
1.1
Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah diatas maka
penelitian ini bertujuan untuk:
1. untuk
mengetahui pengaruh pendidikan dan pelatihan terhadap kinerja pegawai pada KSOP
Tanjung Wangi.
2. untuk
mengetahui pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja pegawai pada KSOP Tanjung
Wangi.
3. untuk
mengetahui pengaruh pendidikan pelatihan dan motivasi kerja terhadap kinerja
pegawai pada KSOP Tanjung Wangi.
1.2
Manfaat Penelitian
1. Manfaat
Teoritis
Bagi
pengembangan ilmu pengetahuan, hasil penelitian ini dapat dijadikan
referensidalam melakukan penelitian selanjutnya, penelitian ini juga dapat
menjadi khasanah keilmuan khususnya manajemen sumber daya manusia dan menambah
penelitian ilmiah di universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi
2.
Manfaat Praktis Bagi penulis hasil
penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan keilmuan, mengetahui macam
motivasi pegawai di instansi dan dapat merencanakan karier kedepannya.
Sedangkan bagi instansi, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk
meningkatkan kinerja pegawai serta memberikan sumbangan pemikiran dan informasi
bagi pimpinan KSOP Tanjung Wangi untuk dapat lebih mmperhatikan kinerja
pegawainya melalui peningkatan pendidikan dan pelatihan serta motivasi kerja
pegawai dengan memberi kesempatan pendidikan dan pelatihan sesuai dengan yang
di harapkan pegawai maupun dengan kebutuhan instansi.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Penelitian
Terdahulu
Untuk keperluan penelitian ini beberapa peneliti terdahulu digunakan
sebagai pembanding, antara lain:
Faried
Adi Gunawan (2014) melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pelatihan Kerja
dan Motivasi terhadap Kinerja Pegawai di Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Surabaya Mulyorejo”. Tujuan penelitiannya adalah (1) untuk mengetahui dan
menganalisis pengaruh pendidikan dan pelatihan terhadap kinerja pegawai KPP
Pratama Surabaya Mulyorejo (2) untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh
motivasi terhadap kinerja pegawai di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surabaya
Mulyorejo dan (3) untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh pendidikan dan
pelatihan serta motivasi terhadap kinerja pegawai di Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Surabaya Mulyorejo.
Kesamaan
dalam penelitian tersebut adalah dalam metode pengumpulan data yaitu kuesioner
sebagai alat pengumpulan data dengan model analisis regresi berganda. Hasil
analisis menunjukkan bahwa (1) pendidikan dan pelatihan berpengaruhi terhadap
kinerja pegawai di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surabaya Mulyorejo, besarnya
pengaruh pendidikan dan pelatihan terhadap kinerja pegawai di Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Surabaya Mulyorejo ditentukan oleh dimensi mutu pendidikan dan
pelatihan, pengembangan sikap, dan kemampuan. (2) Motivasi berpengaruh terhadap
kinerja pegawai, besarnya pengaruh motivasi terhadap kinerja pegawai ditentukan
oleh dimensi laporan kehadiran. (3) secara simultan, hal ini menunjukkan
adannya pengaruh antara pendidikan dan pelatihan serta motivasi kerja terhadap
kinerja pegawai Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surabaya Mulyorejo.Indarti (2009)
melakukan penelitian dengan judul “pengaruh Penidikan dan pelatihan, Motivasi
Kerja dan Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Guru Sekolah Dasar”. Kesamaan dalam
penelitian tersebut adalah
dalam sifat penelitian yaitu (explanatory) dengan analisis regresi
berganda. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara (interview), daftar pertanyaan
(questionare), dan studi dokumentasi. Salah satu hasil dari penelitian tersebut
diperoleh bahwa pendidikan dan pelatihan, motivasi kerja dan lingkungan kerja
berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru sekolah dasar. Berikut ringkasan
persamaan dan perbedaan dari antara penelitian yang dilakukan dengan penelitian
terdahulu :
2.1
Landasan Teori
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa teori dari berbagai
sumber dan literatur, diantaranya sebagai berikut:
2.2.1. Pendidikan dan Pelatihan
Pelatihan dan pendidikan selain
diberikan kepada pegawai/karyawan yang baru, juga kepada pegawai/karyawan yang
lama bekerja di perusahaan, pelatihan dan pendidikan dapat meningkatkan taraf kinerja
seorang karyawan, keusangan pengetahuan, keahlian, dan informasi pada karyawan
akan menurunkan kemampuannya dalam
menjalankan tugas-tugasnya. Munculnya tantangan-tantangan baru yang dihadapi
perusahaan menyebabkan karyawan kehilangan kemampuan dan wawasan untuk menjawab
tantangan. Kebutuhan akan pelatihan muncul setiap saat sebagai akibat dari
perubahan tuntutan pelanggan dan persaingan yang muncul secara fluktuatif.
Penerapan teknologi baru dalam sistem kerja, perubahan posisi jabatan dan
timbulnya jabatan-jabatan baru di lingkungan organisasi merupakan alasan
dilakukannya pelatihan.
Menurut Dale (Kaswan, 2011:3) , dengan bukunya yang berjudul “Pelatihan dan Pengembangan untuk Meningkatkan Kinerja Sumber Daya Manusia (SDM), menyatakan bahwa Pelatihan dapat dilangsungkan di tempat kerja atau di tempat yang disimulasikan sebagai tempat kerja. Proses pelatihan difokuskan pada pelaksanaan pekerjaan dan penerapan pemahaman serta pengetahuan pada pelaksanaan tugas tertentu. Umumnya hasil yang diinginkan dari pelatihan ialah penguasaan atau peningkatan keterampilan.Proses pelatihan dikendalikan oleh pemilik keahlian yang diajarkan atau ahliyang membantu mengembangkan keterampilan melalui pengalaman terstruktur.
Menurut Dale (Kaswan, 2011:3) , dengan bukunya yang berjudul “Pelatihan dan Pengembangan untuk Meningkatkan Kinerja Sumber Daya Manusia (SDM), menyatakan bahwa Pelatihan dapat dilangsungkan di tempat kerja atau di tempat yang disimulasikan sebagai tempat kerja. Proses pelatihan difokuskan pada pelaksanaan pekerjaan dan penerapan pemahaman serta pengetahuan pada pelaksanaan tugas tertentu. Umumnya hasil yang diinginkan dari pelatihan ialah penguasaan atau peningkatan keterampilan.Proses pelatihan dikendalikan oleh pemilik keahlian yang diajarkan atau ahliyang membantu mengembangkan keterampilan melalui pengalaman terstruktur.
Pelatihan menurut Dessler (Siti Al Fajar
dan Tri Heru, 2010:102) proses
pembelajaran keterampilan dasar yang
dibutuhkan oleh karyawan baru untuk melaksanakan pekerjaannya.
Perbedaan
antara pelatihan dan pengembangan menurut Kaswan (2011:4) dalam bukunya yang
berjudul “Pelatihan dan Pengembangan untuk meningkatkan Kinerja Sumber Daya
Manusia (SDM)” disajikan dalam table berikut.
Tabel 2.1 Perbedaan Pelatihan dan
Pengembangan
Pelatihan
|
Pengembangan
|
|
Fokus
|
Pekerjaan saat ini
|
Pekerjaan saat ini dan yang
|
akan datang
|
||
Ruang Lingkup
|
Karyawan secara individual
|
Kelompok kerja atau
|
Organisasi
|
||
Kerangka waktu
|
Segera/jangka pendek
|
Jangka panjang
|
Sasaran
|
Memperbaiki kekurangan
|
Mempersiapkan tuntutan
|
kemampuan saat ini
|
kerja di masa yang akan
|
|
Datang
|
||
Aktivitas
|
Menunjukkan/memperlihatkan
|
Pembelajaran
|
Sumber : Kaswan (2011:4), "Pelatihan dan
Pemgembangan untuk Meningkatkan kinerja SDM
2.2.2
Tujuan Pelatihan
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor
101 Tahun 2000, pendidikan dan pelatihan kerja diselenggarakan dan diarahkan
untuk membekali, meningkatkan, dan mengembangkan kompetensi kerja guna
meningkatkan kemampuan, dan kinerja, Tujuan pendidikan dan pelatihan
diantaranya :
Peningkatan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap untuk dapat melaksanakan tugas jabatan operasional
a. Menciptakan
aparatur yang mampu berperan sebagai pebaharu dan perekat persatuan dan
kesatuan bangsa
b. Memantapkan
sikap dan semangat kepribadian yang berorientasi pada pelayanan, pengayoman,
dan pemberdayaan masyarakat
c.
Membantu memecahkan
masalah operasional
d. Memenuhi
kebutuhan pertumbuhan pribadi
2.2.3
Penetapan Sasaran
Pelatihan
Pelatihan diarahkan pada pencapaian
beberapa sasaran organisasional seperti metode pelayanan jasa yang lebih
efisien, kualitas pelayanan jasa yang lebih baik .Hal tersebut bertujuan agar
aktivitas pendidikan pelatihan dapat membantu upaya pencapaian sasaran nya.
Menurut Siti Al Fajar & Tri Heru
(2010 : 105) dalam bukunya dengan judul “Manajemen Sumber Daya Manusia”,
menyatakan bahwa Sasaran pelatihan dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a. Sasaran
instruksional
1. Apa
prinsip-prinsip, fakta-fakta,dan konsep-konsep yang akan di pelajari dalam
program pendidikan dan pelatihan?
2. Siapa
yang akan mengajar?
3. Kapan
mereka akan mengajar?
b. Sasaran
organisasional dan departemental
1. Apa
dampak pendidikan dan pelatihan pada hasil organisasional dan departemental
seperti kemangkiran, perputaran pegawai, dan perbaikan kinerja?
c. Sasaran
kinerja dan pertumbuhan individual
1. Apa
dampak pelatihan pada hasil perilaku dan sikap individu peserta pelatihan?
Apa dampak pelatihan
pada pertumbuhan pribadi individu peserta pelatihan?
a. Metode
Pelatihan
Menurut Siti Al Fajar & Tri Heru
(2010 : 105), terdapat
beberapa metode yang digunakan oleh organisasi untuk memuaskan kebutuhan dan
mencapai sasaran pelatihan yang dilakukan, yaitu :
1. On-the-job Training
(OJT)
Umumnya diberikan oleh
pegawai senior atau atasan. Karyawan diberikan petunjuk oleh pelatih bagaimana
melaksanakan pekerjaan dan mereka mengikuti melakukan nya di bawah pengawasan
pelatih nya tersebut. Keunggulan OJT adalah tidak ada fasilitas khusus yang di
perlikan dan karyawan baru akan bekerja sangat baik selama dalam proses
pembelajaran. Sedangkan kelemahan utamanya adalah karena tekanan di tempat
kerja dapat menjadi penyebab instruksiuntuk karyawan menjadi sia-sia, diterima
secara serampangan atau di abaikan.
2. Job Rotation
Seorang
karyawan mempelajari beberapa pekerjaan yang berbeda di dalam unit kerja atau
departemen nya dan melakukan pembelajaran untuk setiap pekerjaan yang berbeda
tersebut masing-masing dalam periode waktu tertentu.Satu keunggulan utama job rotation adalah menghasilkan
fleksibilitas di dalam departemen. Contoh, saat salah seorang karyawan di unit
kerja tersebut tidak bisa masuk kerja maka karyawan yang lain dapat segera
menggantikan melaksanakan pekerjaan dari karyawan yang tidak masuk kerja
tersebut. 2.2.4
Motivasi Kerja
a.
Pengertian Motivasi
Menurut Kanfer (Jones dan Geoge, 2007) motivasi
merupakan kekuatan psikologis yang akan menentukan arah dari
perilaku seseorang,
tingkat upaya dari seseorang dan tingkat ketegaran pada saat orang itu
dihadapkan pada berbagai rintangan.
Menurut
Robbins, S. (2001), motivasi adalah proses yang memperhitungkan intensitas,
arahan, dan kegigihan dalam upayameraih tujuan. Pengertian tersebut mengandung 3
elemen utama, yaitu:
1.
Intensity, yaitu seberapa keras orang
berusaha
2.
Direction, yaitu terkait dengan
penyaluran upaya
3.
Persistence, yaitu seberapa lama orang
akan ertahan dalam upaya yang dilakukan.
a.
Teori Awal Motivasi
Paling
tidak terdapat 3 teori motivasi yang dikembangkan, yaitu teori hierarki
kebutuhan, teori X dan Y, dan teori 2 faktor.Namun beberapa teori motivasi
tersebut tetap dihargaisebagai pemberi fondasi dalam pengembangan teori
motivasi kontemporer.
1.
Teori Hierarki Kebutuhan
Dikembangkan oleh Abraham Maslow. Menurut Maslow, terdapat lima
hierarki kebutuhan manusia, yaitu :
a)
Physiological (fisiologi). Kebutuhan
yang meliputi sandang, pangan, papan, dan kebutuhn biologi lainnya.
b)
Safety (rasa aman). Kebutuhan akan
keselamatan dan perlindungan terhadap kerugian fisik dan emosional.
c)
Social (sosial). Kebutuhan yang meliputi
cinta kasih, rasa memiliki, penerimaan sosial dan perkawanan.
Esteem (penghargaan). Meliputi faktor rasa hormat internal, seperti harga diri, otonomi dan prestasi serta faktor hormat eksternal seperti status, pengakuan dan perhatian.
Esteem (penghargaan). Meliputi faktor rasa hormat internal, seperti harga diri, otonomi dan prestasi serta faktor hormat eksternal seperti status, pengakuan dan perhatian.
a) Self-actualization (aktualisasi diri),
dorongan pada seseorang untuk menjadi orang yang memiliki kmampuan terkait
kebutuhan berkembang
Teori X dan Y
dikembangkan oleh Douglas McGregor. Dalam teori X, manusia dilihat dari sudut
pandang negatif, sedangkan dalam teori Y, manusia dilihat dari sudut pandang
positif. Apabila dikaitkan dengan teori Maslow, maka teori X cenderung lebih
dekat dengan lower-order needs, sedangkan teori Y cenderung lebih
dekat dengan higher-order needs.McGregor
sendiri menilai bahwa teori Y lebih valid dibanding teori X, McGregor
menyarankan pengambilan keutusan yang bersifat partisipasi, pemberian tanggung
jawab dan tangan kepada karyawan, serta hubungan kelompok yang baik untuk
memaksimalkan motivasi kerja karyawan.
1.
Teori X dan Y
2.
Teori Dua Faktor
Teori dua faktor dikembangkan
oleh psikolog Frederick Herzberg. Teori ini sering disebut dengan motivation-hygiene theory, dalam teori
ini, terdapat dua kelompok faktor yang mempengaruhi motivasi seseorang, yaitu :
a)
Instrinsic Factors atau faktor
instrinsik, yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi kompensasi (job
satisfaction), antara lain jenis pekerjaan, tanggung jawab, dan prestasi.
b)
Extrinsic Factors atau faktor ekstrinsik,
yaitu faktor-faktor yang berhubungan dengan ketidakpuasan kerja, antara lain
supervisi, gaji, kebijakan perusahaan, dan kondisi pekerjaan.
c.
Teori Motivasi Kontemporer
Teori motivasi kontemporer berupaya menjelaskan seni dari memotivasi karyawan, terdapat beberapa teori motivas kontemporer, antara lain:
ERG theory, McClelland theory of needs, goal-setting theory, reinforcement
theory, dan expectan theory, teori
William Ouchi
1.
ERG theory
Teori ERG dikembangkan
oleh Clayton Alderfer dari Universitas Yale, dimana Alderfer berusaha mengkaji
ulang teori hierarki kebutuhan Maslow. Menurut Alderfer, terdapat 3 kelompok
utama kebutuhan yaitu existence
(keberadaan), relatedness (hubungan),
dan growth (pertumbuhan) sehingga
disingkat ERG.
2.
Teori Kebutuhan McClelland
David McClelland juga mengembangkan
teori kebutuhan. Menurut McClelland, terdapat 3 jenis kebutuhan, yaitu:
a)
Need for achievement atau nAch
(kebutuhan berprestasi) yaitu kebutuhan untuk meraih kesuksesan.
b)
Need for power atau nPow (kebutuhan memiliki
kekuasaan), yaitu kebutuhan untuk memiliki dampak, memiliki pengaruh dan
mengkontrol diri orang lain.
c)
Need for affilation atau nAff (kebutuhan
berafiliasi), yaitu kebutuhan untuk disukai dan diterima orang lain.
3.
Teori Goal Setting
Menurut Robbins, S. (2001), terdapat 5 faktor yang mempengaruhi keterkaitan antara tujuan dan kinerja, yaitu:
Menurut Robbins, S. (2001), terdapat 5 faktor yang mempengaruhi keterkaitan antara tujuan dan kinerja, yaitu:
a)
Goal commitment-komitmen terhadap tujuan
yang ditetapkan.
b)
Self efficacy-ingkat kepercayaan diri
karyawan terhadap kemampuan dirinya dalam menjalankan tugas,
Task
characteristics-karakteristik
tugas yang menunjukkan bahwa goal setting tidaklah berhasil untuk semua jenis
pekerjaan.
a)
National culture-budaya bangsa yang
menunjukkan bahwa setting lebih optimal diterapkan di Amerika serikat dan
Kanada.
b)
Feedback-umpan balik; tanpa adannya
umpan balik, kinerja cenderung kurang optimal karena tidak adannya kontrol.
1.
Teori Reinforcement
Teori Reinforcement (penegakkan atau pemaksaan)
memandang bahwa tingkah laku merupakan suatu konsekuensi dari lingkungn. Proses
reinforcement dapat dilakukan
diantarnnya melalui pengondisian ingkungan sehingga mendorong pembentukan
perilaku.
2.
Teori Equity
Terdapat beberapa upaya
pembandingan yang dapat dilakukan oleh karyawan, yaitu :
a)
Self-inside – karyawan akan
membandingkan dengan posisi sama dalam internal organisasi
b)
Self-outside – karyawan akan mencoba
membandingkan antara internal organisasi dengan eksternal organisasi untuk
posisi yang sama
c)
Other-inside – karyawan akan
membandingkan dengan karyawan lain maupun kelompok lain di dalam organisasi.
d)
Other-outside – karyawan akan
membandingkan dengan karyawan lain maupun kelompok lain di luar organisasi.
3.
Teori Ekspektasi
Teori ini dikembangkan oleh VH Vroom.
Menurutnya, kecenderungan tindakan dipengaruhi oleh kecenderungan kuat-lemahnya
harapan. Selanjutnya tindakan akan diikuti oleh pencapaian hasil. Terdapat tiga
aspek yang sangat penting dari hubungan perilaku-hasil sebagai berikut:
a)
Harapan usaha-kinerja, merujuk
pada keyakinan para karyawan bahwa bekerja lebih keras akan meghasilkan
kinerja.
b)
Hubungan kinerja-penghargaan,
mempertimbangkan harapan individu bahwa kinerja yang tinggi benar-benar akan
menghasilkan penghargaan.
c)
Nilai penghargaan, merujuk pada
seberapa bernilainya penghargaan bagi karyawan
1.
Teori William Ouchi (Z Theory)
Teori Z adalah lebih
menekankan pada peran dan posisi karyawan dalam perusahaan yang dapat membuat
para karyawan menjadi nyaman, betah, senang, dan merasa menjadi bagian penting
dalam perusahaan. Syarat dan ciri dari perusahaan yang menerapkan teori Z :
a)
Tanggung jawab diberikan secara
perorangan atau individual.Karyawan bebas bekerja menggunakan keterampilan yang dimilikinnya
b)
Karyawan dipekerjakan seumur
hidup dan jika perusahaan mengalami krisis, maka para karyawan tidak akan
dipecat
c)
Pengambilan keputusan dilakukan
dengan cara konsensus atau secara terbuka
d)
Promosi dilakukan perlahan –
lahan dari bawah, dan proses evaluasi prestasi dan promosi dilakukan dengan
hati-hati agar tidak menimbulkan masalah dengan karyawan.
a.
Pengukuran Motivasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi kerja
menurut Hamalik (Sutrisno,2009:124) antara lain faktor intern dan ekstern, yang
meliputi:
1.
Keinginan untuk hidup
2.
Keinginan untuk memperoleh
penghargaan
3.
Keinginan untuk berkuasa
4.
Kondisi lingkungan kerja
5.
Adanya jaminan pekerjaan
Peraturan yang fleksibel
1.2.4
Kinerja
a.
Pengertian Kinerja
Kinerja berasal dari pengertian Performance. Kinerja
mempunyai makna yang lebih luas, bukan hanya hasil kerja, tetapi termasuk
bagaimana proses pekerjaan berlangsung.
Pengertian Kinerja adalah seorang karyawan
merupakan hal yang bersifat individual, karena setiap karyawan mempunyai
tingkat kemampuan yang berbeda - beda dalam mengerjakan tugasnya. Pihak
manajemen dapat mengukur karyawan atas unjuk kerjanya berdasarkan kinerja dari
masing - masing karyawan. Kinerja
adalah sebuah aksi, bukan kejadian.Aksi kinerja itu sendiri terdiri dari banyak
komponen dan bukan merupakan hasil yang dapat dilihat pada saat itu juga.Pada
dasarnya kinerja merupakan sesuatu hal yang bersifat individual, karena setiap
karyawan memiliki tingkat kemampuan yang berbeda dalam mengerjakan
tugasnya.Kinerja tergantung pada kombinasi antara kemampuan, usaha, dan
kesempatan yang diperoleh. Hal ini berarti bahwa kinerja merupakan hasil kerja
karyawan dalam bekerja untuk periode
tertentu.
Kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai
hubungan kuat dengan tujuan strategis organisasi, kepuasan konsumen dan
memberikan kontribusi pada ekonomi (Armstrong dan Baron, 1998 :15). Dengan
demikian, kinerja adalah tentang melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai
dari pekerjaan tersebut. Kinerja adalah tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakan.
MenurutMaluyuS.P.Hasibuan(2003:94),
kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya
yang didasarkan atas kecakapan,
pengalaman dan kesungguhan serta waktu.Pendapat
lain mengenai definisi kinerja yang diberikan oleh Veithzal Rivai (2005:15), kinerja pegawai adalah
kesediaan seseorang atau kelompok orang untuk melakukan sesuatu kegiatan dan
menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawabnya dengan hasil seperti yang
diharapkan.
a. Faktor
Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan
Faktor-faktor penentu pencapaian
prestasi kerja atau kinerja individu dalam organisasi menurut A.A. Anwar Prabu
Mangkunegara (2005:16-17) adalah sebagai berikut:
1. Faktor
Individu
Secara
psikologis, individu yang normal adalah individu yang memiliki integritas yang
tinggi antara fungsi psikis (rohani) dan fisiknya (jasmaniah).Dengan adanya
integritas yang tinggi antara fungsi psikis dan fisik, maka individu tersebut
memiliki konsentrasi diri yang baik.Konsentrasi yang baik ini merupakanmodal
utama individu manusia untu mampu mengelola dan mendayagunakan potensidirinya
secara optimal dalam melaksanakan kegiatan atau aktivitas kerja sehari-hari
dalam mencapai tujuan organisasi.
2. Faktor
Lingkungan Organisasi
Faktor lingkungan kerja organisasi sangat menunjang bagi individu dalam mencapai prestasi kerja. Faktor lingkungan organisasi yang dimaksud antara lain uraian jabatan yang jelas, autoritas yang memadai, target kerja yang menantang, pola komunikasi kerja efektif, hubungan kerja harmonis, iklim kerja respek dan dinamis, peluang berkarier dan fasilitas kerja yang relatif memadai.Dari pendapat di atas dapat dijelaskan, bahwa faktor individu dan faktor lingkungan organisasi berpengaruh terhadap kinerja pegawai. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja suatu karyawan tersebut, diantaranya :
a) Faktor kemampuan. Dimana secara psikologis kemampuan (ability) pegawi terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan realita (Pendidikan). Oleh karena itu pegawai perlu ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya
b) Faktor motivasi. Dimanan motivasi terbentuk dari sikap (attitude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai terarah untuk mencapai tujuan kerja.Lingkungan kerja. Dari lingkungan kerja menunjuk pada hal yang berada di sekeliling dan mencakup karyawan di kantor. Kondisi lingkungan kerja lebih banyak tergantung dan diciptakan oleh pimpinan perusahaan/organisasi tersebut, sehingga suasana kerja yang tercipta tergantung pada pola yang diciptakan pimpinan.
Disamping dari beberapa faktor tersebut diatas, suatu perusahaan juga perlu melakukan peningkatan kinerja karyawannya dengan cara melakukan pemekaran pekerjaan dan pemerkayaan pekerjaan. Pemekaran pekerjaan merupajan pemberian tugas kepada pegawai dengan tingkat kesulitan dan resiko yang tinggi dan biasanya tidak begitu banyak tugas yang dibebankan kepada karyawan tersebut. Semua itu disesuaikan dengan tingkat kemampuan suatu karyawan. Dalam sebuah perusahaan haruslah sering mengevaluasi kinerjanya, karena dengan melakukan evaluasi kinerja suatu perusahaan akan menjadi baik dan agar tetap tumbuh dan dapat bersaing.
Perbaikan ini akan dilaksanakan secara terus menerus, sehingga kinerja perusahaan tersebut akan makin baik dan dapat terus unggul.
Salah satu cara untuk memperbaiki dan memaksimalkan kinerja pegawai adalah dengan cara restrukturisasi. Kita mungking pernah mendengar kata tersebut.Restrukturisasi sering disebut dengan downsing atau delayering, melibatkan pengurangan perusahaan di bidang tenaga kerja atau unit satuan kerja.Pada setiap perusahaan yang melakukan perbaikan, entah dalam skala kecil atau besar, tujuannya untuk memperbaiki kinerja perusahaan tersebut.
Menurut Hasibuan (2005:94) bahwa indikator yang digunakan untuk menilai kinerja karyawan antara lain adalah sebagai berikut :
Faktor lingkungan kerja organisasi sangat menunjang bagi individu dalam mencapai prestasi kerja. Faktor lingkungan organisasi yang dimaksud antara lain uraian jabatan yang jelas, autoritas yang memadai, target kerja yang menantang, pola komunikasi kerja efektif, hubungan kerja harmonis, iklim kerja respek dan dinamis, peluang berkarier dan fasilitas kerja yang relatif memadai.Dari pendapat di atas dapat dijelaskan, bahwa faktor individu dan faktor lingkungan organisasi berpengaruh terhadap kinerja pegawai. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja suatu karyawan tersebut, diantaranya :
a) Faktor kemampuan. Dimana secara psikologis kemampuan (ability) pegawi terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan realita (Pendidikan). Oleh karena itu pegawai perlu ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya
b) Faktor motivasi. Dimanan motivasi terbentuk dari sikap (attitude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai terarah untuk mencapai tujuan kerja.Lingkungan kerja. Dari lingkungan kerja menunjuk pada hal yang berada di sekeliling dan mencakup karyawan di kantor. Kondisi lingkungan kerja lebih banyak tergantung dan diciptakan oleh pimpinan perusahaan/organisasi tersebut, sehingga suasana kerja yang tercipta tergantung pada pola yang diciptakan pimpinan.
Disamping dari beberapa faktor tersebut diatas, suatu perusahaan juga perlu melakukan peningkatan kinerja karyawannya dengan cara melakukan pemekaran pekerjaan dan pemerkayaan pekerjaan. Pemekaran pekerjaan merupajan pemberian tugas kepada pegawai dengan tingkat kesulitan dan resiko yang tinggi dan biasanya tidak begitu banyak tugas yang dibebankan kepada karyawan tersebut. Semua itu disesuaikan dengan tingkat kemampuan suatu karyawan. Dalam sebuah perusahaan haruslah sering mengevaluasi kinerjanya, karena dengan melakukan evaluasi kinerja suatu perusahaan akan menjadi baik dan agar tetap tumbuh dan dapat bersaing.
Perbaikan ini akan dilaksanakan secara terus menerus, sehingga kinerja perusahaan tersebut akan makin baik dan dapat terus unggul.
Salah satu cara untuk memperbaiki dan memaksimalkan kinerja pegawai adalah dengan cara restrukturisasi. Kita mungking pernah mendengar kata tersebut.Restrukturisasi sering disebut dengan downsing atau delayering, melibatkan pengurangan perusahaan di bidang tenaga kerja atau unit satuan kerja.Pada setiap perusahaan yang melakukan perbaikan, entah dalam skala kecil atau besar, tujuannya untuk memperbaiki kinerja perusahaan tersebut.
Menurut Hasibuan (2005:94) bahwa indikator yang digunakan untuk menilai kinerja karyawan antara lain adalah sebagai berikut :
1.
Prestasi Kerja, hasil prestasi kerja
karyawan, baik kualitas maupun kuantitas dapat menjadi tolak ukur kinerja.
2.
Kedisiplinan, sejauh mana kedisiplinan
karyawan dalam mematuhi peraturan yang ada dan melaksanakan instruksi yang diberikan kepadanya dapat
menjadi tolak ukur kinerja.
3.
Kerjasama,diukur dari kesediaan
karyawan dalam berpartisipasi dan bekerja sama dengan karyawan lain sehingga
hasil pekerjaanya akan semakin baik.
4.
Keterampilan, kemampuan karyawan dalam
menyelesaikan pekerjaan yang telah dibebankan kepadanya juga menjadi tolak ukur
dalam meningkatkan kinerja.
Tanggung Jawab, diukur
dari kesediaan karyawan dalam mempertanggungjawabkan pekerjaan dan hasil
kerjanya.
1.2
Kerangka Pemikiran
Menurut
Tiurlina (2012:63). “Pendidikan dan pelatihan serta motivasi merupakan faktor
yang dapat mempengaruhi kinerja pegawai. Hal tersebut
menyebabkan kurangnya
kualitas maupun kuantitas dari hasil pekerjaan serta perilaku pegawai dalam
memberikan pelayanan tidak maksimal. Dengan demikian perlu diberikan perhatian
yang khusus terhadap pendidikan dan pelatihan terhadap pegawai serta hal-hal yang
menjadi motivasi bagi pegawai dalam bekerja.
Kesempatan
menambah pengetahuan melalui pendidikan dan pelatihan seperti memberikan tugas
belajar, izin belajar, pendidikan dan pelatihan, kursus, atau yang sejenisnya
kepada pegawai akan memberikan suatu motivasi atau dorongan tersendiri kepada
pegawai dalam bekerja yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan kinerja
organisasi.
“Pegawai
yang
berkualitas dan mampu menghasilkan kinerja adalah yang mengerti dan paham atas
apa yang akan dilakukan. Pegawai yang memiliki kemampuan yang sejalan dengan
kebutuhan tugas dan fungsinya merupakan syarat terciptanya pegawai yang
profesional” (Tiurlina, 2012:65). Agar organisasi memiliki pegawai yang
profesional maka perlu dilakukan pola pengembangan sumber daya melalui pendidikan
dan pelatihan.